Uncategorized

Empat Januari

Terimakasih hati, atas kelapangan besar yang engkau terima dari waktu ke waktu. Atas kepercayaan yang tidak ada hentinya saat jiwa dan raga bersorak kalah. Atas segala kesabaran menerima suka duka takdir ketetapan-Nya. Atas kesungguhan menyembuhkan setiap luka dan yakin bahwa selalu ada hari yang lebih cerah setelah ini. Atas pengertianmu, saat apa yang kau kata tidak aku dengarkan. Pada akhirnya aku tau, engkaulah hati yang menyelamatkan aku dari segala lara, yang paling pertama mengapresiasi setiap prestasi yang aku capai. Engkaulah hati yang tidak pernah menutup harap atas keajaiban tangan-tangan-Nya.

2018 sudah berlalu.

Tidak banyak yang aku capai. Pada tahun ini aku mendapatkan pekerjaan impianku masa kuliah: peneliti. Dan terjunlah aku dalam dunia penelitian pertanian khusus tanaman padi.

Rezeki tidak hanya sekedar gaji, namun juga jaringan sosial, pengalaman-pengalaman menulis karya ilmiah, turut andil dalam perakitan varietas padi baru: Padi kandungan Zn tinggi yang Alhamdulillah telah rilis pada tahun 2018 oleh Menteri Pertanian, beradaptasi di kota baru: Subang.

I also did many travelings. Pada tahun 2018, aku banyak mengeksplorasi daerah Jawa Barat, karena tugas dinas: Subang, Karawang, Bekasi, Bandung, Garut, Sumendang dan Purwakarta.

Selain itu, aku juga banyak mengeksplorasi daerah Kalimantan: Pontianak, Mempawah, Singkawang, Sambas dan Bengkayang. Alhamdulillah…

Terimakasih hati, jiwa dan raga. Semoga tahun 2019 aku bisa lebih memahami kalian, bahwa aku tetap menjadi pribadiku yang sesungguhnya: pemimpi dan berbeda.

Salam,

F.

Iklan
Standar
Uncategorized

Holla

Assalamu’alaikum, wr. wb.

Waah, sudah 2 bulan saya berhenti nulis dari blog ini. Sebenarnya saya tetap memposting ide tulisan saya setiap hari di akun Tumblr saya. Anyway, setelah saya coba Tumblr sejak awal Mei sampai hari ini, ternyata saya ketagihan dan prefer untuk aktif di akun itu. Meskipun Medkominfo telah memblokir Tumblr, namun saya tetap mengaksesnya setiap hari demi menuangkan pemikiran dan mood saya yang cepat berubah haha. Jadi setiap terpikirkan sesuatu langsung saya post disana.

Mulanya, saya kurang tertarik untuk membuat akun Tumblr, tapi karena saya bertemu dengan seseorang di Bali, yang juga suka menulis sajak dan pemikiran acak, akhirnya saya kepo dan ikut mencoba membuat akun disana. Then it’s a perfect space for me.

Saya rasa Tumblr dan WordPress ini punya banyak kemiripan, namun dalam pengaksesannya saya kira Tumblr menyediakan ruang yang lebih fleksibel, minim, simple, dapat diakses dimana dan kapan saja ketika ide muncul, sehingga lebih mudah untuk mengeksekusinya.

Ruang Tumblr yang saya miliki sekarang benar-benar ampuh sebagai media self-healing saya secara pribadi, karena mampu menadah semua emosi yang saya resapi, juga merekam berbagai kisah yang saya pikir mungkin ingin saya baca dan kenang lagi dalam waktu berpuluh-puluh tahun ke depan. Begitu sih… haha

Oh iya, untuk nama akunnya sendiri rahasia. Saya sengaja membuatnya tanpa mencomot identitas manapun dari diri saya atau tidak seperti akun saya yang lainnya yang secara konsisten menggunakan nama ‘fierdhaazkia’. Kali ini saya ingin membuat akun saya spesial dan privasi, yang barangkali akan saya bagi tulisan tersebut untuk orang-orang yang intim dengan saya.

Barangkali begitu, saya mohon maaf ya akun WordPressku. Saya jadi sangat pasif disini. Mungkin sesekali saya akan menulis lagi jikalau ada waktu dan kesempatan untuk mengakses.

Terimakasih.

Wassalamu’alakum wr. wb.

-FWA

Standar
Uncategorized

Praktisi

Akhir-akhir ini saya banyak mempelajari psikologi, mulai dari psikologi gender, psikologi kepribadian, psikologi positif, psikologi abnormal, sampai psikologi klinis. Ilmu psikologi memang jauh dari bidang spesialis akademik saya, tapi semakin dewasa saya semakin tertarik untuk membuka wawasan saya tentang ilmu perilaku. Pengetahuan ini tidak saya dapatkan dari bangku kuliah maupun praktik kerja, saya hanya membaca dari berbagai referensi yang menurut saya mumpuni. Saya pun ingin memahami keilmuan ini bukan untuk menjadi spesialis konsultan atau praktisi klinik, saya hanya ingin menerapkannya untuk membantu saya dan orang-orang terdekat saya untuk melewati fase-fase hidup nyata yang kami miliki.

Alasannya simpel. Mulanya saya ingin menyelamatkan diri saya sendiri dari kubangan rasa depresi atas problematika yang kerap mendatangi saya. Jujur, awal tahun 2018 adalah bulan-bulan yang berat bagi saya; dimana saya kehilangan jati diri saya, kepribadian saya yang tangguh dan pemberani memudar, rasa percaya diri saya hilang, dan saya berubah menjadi pribadi pemurung yang menarik diri dari orang-orang sekitar.

Saya paham bahwa saya keliru. Saya mengerti apa yang saya lakukan justru membuat hidup saya jauh lebih kompleks. Saya pun tahu, tindakan-tindakan tersebut tidak menawarkan solusi apa-apa. Namun, memang terkadang kita berpikir tak ada yang bisa dilakukan untuk menstimulus perasaan bahagia. Diam adalah cara terbaik untuk menjeda dari pikiran yang melelahkan.

Sampai akhirnya, saya pun lelah terlalu lama larut dalam ketidak bahagiaan. Lalu saya memulai diri saya membaca artikel dan buku-buku tentang psikologi. Mental saya terporak-porandakan, namun saya berpikir ingin menyembuhkannya. Bagaimanapun saya harus bisa mencintai diri saya kembali. And well…. saya pikir perlahan-lahan saya mampu mendampingi diri saya sendiri keluar dari lorong hidup yang suram. Saya mulai membangun kembali kepribadian-kepribadian baik yang pernah saya miliki. Saya juga mulai menata emosi dan perilaku serta memilah sifat dan kebiasaan hidup saya mana-mana saja yang perlu dipertahankan dan mana saja yang perlu dihilangkan. Saya berharap saya sembuh dari kesakitan ini dan berdiri menjadi pribadi yang lebih kokoh dari sebelumnya. Saya percaya, bahwa diri saya lebih kuat dari yang saya kira sebelumnya.

Oleh karena itu, saya pun ingin bermanfaat bagi sesama. Saya ingin menjadikan diri saya yang terbaik bagi pasangan hidup, keluarga, kerabat, teman-teman serta lingkungan sekitar. Saya ingin memberikan aura positif dan memberi dampak baik. Saya ingin merangkul mereka semua, menggenggam erat tangan-tangan mereka, mendampingi dalam senang dan duka, memberikan saran-saran terbaik yang saya miliki, serta menumbuhkan kebahagian di hati-hati kecil mereka. Saya benar-benar ingin menjadi pribadi yang seperti itu. Semoga 🙂

Standar
Uncategorized

Perempuan Muram Durja

Wahai perempuan bermuram durja, aku tengah lelah menunggu simpul senyummu terbit kembali. Terlalu lama penantianku tak memberi pertanda positif.

Kini sesungguhnya aku telah memberanikan diriku untuk berkata jujur, bahwa aku benar-benar tak lagi mengenalimu. 98% kepribadianmu berubah menjadi ruang-ruang gelap yang tak lagi bisa aku terangi.

Duhai diriku, sudah, sudahi drama ini. Mari bersama kita perbaiki. Demi kebaikanmu, juga kebaikanku.

“Selamat tinggal! kini aku kembali berpulang pada kepribadianku sesungguhnya; tepat sebelum kau hinggap terlampau lama. Kali ini aku akan berbahagia. Melebihi yang kau kira. Selamat tinggal, sudahi pertemanan kita ya, wahai lara.”

Standar
Ceracau

Quarter of Life

Am I facing a quarter of life crises?

Honestly, I have no idea where I go for answers or even how to find the right questions describing my actual condition. This is very rare as long as I live as human.

Recently, I’ve just found some odd behaviours of mine. I don’t relize where and when these signs begin to express, but sure, these change my emotion and my way of thinking. These signs are;

  • I often see clearly many roads in front of my couple eyes, but the fact is I don’t have any choices. It’s terrible. I may be nut hallucinating for expectations. That’s why now I’m really not sure for  my own future directions.
  • I surf the internet so much at work every day that I literally hit a point I don’t know what else to search for-even I’m having tons of pressures and millions tasks that I should hold first.
  • I’m easier to laugh and cry for nothing. This happens when I read books, watch movies, talking to the others even these activities don’t contain whether dumbs or sadness inside.
  • I dream about going back and punching every place and chance I’ve ever got, so I trust that it is all answers to cure my illness.

If all signs I wrote above are truly indicating me in phase of a quarter of life, It’s very well-earned. Somehowe, physically I am going to 25. Reference suggests that key challenges faced by people aged from between 18-35 can include identity confusion, internal conflict (failing to reach the expectationset for themselves) and uncertainty. I highlighted two helpful tips to lose those crises for myself and may be useful enough if someday you trapped at this awkward phase like me:

1. Stop comparing myself to others.

When I compare myself unfavorably to others, I do myself a disservice. It causes me to lose appreciation for all positive things in my life-and instead focus on what I don’t have.

2. Define what success means to me.

People’s achievements have nothing to do with my happiness. Instead of allowing my peers to influence my concept of success, take time to reflect and define what’s important to me. In the end, I may be inspired to make a job or career change after all or I may decide to work less or switch my focus-so I can spend more time with friends and family, or travel more, or accomplish some other goal.

Subang, 19 April 2018

 

Standar